Facebook Pages

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqih. Tampilkan semua postingan

Bolehkah Menulis Nama pada Mushaf Al-Quran?

Jumat, 26 Juni 2015

 Pertanyaan :
أرجو من حضرتكم الإفادة
هل يجوز لنا كتابه أسمائنا في بدايه المصاحف أو في نهايتها لأني سمعت أنه لا يجوز؟ ولكم جزيل الشكر
Saya mengharapkan faedah dari Anda
Apakah boleh bagi kita menuliskan nama kita pada awal atau akhir mushaf, karena saya mendengar bahwa perbuatan tersebut tidak boleh ? Terimakasih
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
Segala puji milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, amma ba’du :
فكتابة الأسماء في بداية المصاحف أو نهايتها، يختلف حكمها بحسب اختلاف قصد الكاتب، فهي جائزة إذا قصد الكاتب بها تعريف نسخته التي كتبها أو التي يملكها، لأنه لا يوجد ما يمنع ذلك، ولأن ذلك وجد في المصاحف المخطوطة ولم ينكره أحد -فيما نعلم-
Menulisakan nama di awal atau akhir mushaf berbeda hukumnya sesuai dengan tujuan dan maksud penulisan. Hukumnya boleh jika maksud dari orang yang menulis adalah untuk mengetahui naskah versi siapa atau mengetahui pemilik mushaf tersebut, karena tidak terdapat larangan atas hal tersebut. Dan karena hal tersebut juga didapati pada banyak mushaf yang masih dalam bentuk makhthuthah (tulisan tangan) dan tidak ada seorang ulama’ pun yang mengingkarinya –sebatas yang kami ketahui-
أما إذا قصد الكاتب لاسمه الرياء والسمعة أو طلب محمدة الناس والثناء عليه، فهذا لا يجوز له كتابة اسمه، لأن كتابته له وسيلة إلى محرم، والوسائل لها حكم المقاصد.
Adapun jika maksud penulisan nama tersebut karena riya’, sum’ah atau untuk mendapatkan pujian dan sanjungan manusia, maka ini tidak boleh. Karena penulisan nama pada mushaf ini sebagai sarana menuju keharaman dan sarana dihukumi sebagaimana tujuannya.
وبعض الناس يطبع المصاحف على نفقته أو يكتبها بخطه، ثم يوقفه ليقرأ الناس منها، ويكتب اسمه عليه طالباً من القارئين الدعاء له، وهذا أيضاً مما لا نعلم مانعاً منه، ما دام قصد الكاتب صحيحاً، والأولى له أن يترك ذلك، لأنه يخشى أن يجر إلى بعض ما تقدم من رياء ونحوه.
والله أعلم.
Sebagaian orang ada yang mencetak mushaf dengan biaya darinya atau menulis dengan tulisan tangannya, kemudian dibaca oleh orang lain dan dia menuliskan namanya supaya didoakan oleh pembaca mushaf tersebut. Sebatas yang kami ketahui perbuatan ini juga tidak terlarang selama maksud dari penulis tersebut baik. Akan tetapi yang lebih baik adalah meninggalkan perbuatan tersebut, karena dikhawatirkan bisa membawa kepada perbuatan riya’ dan yang semisalnya, sebagaimana penjelasan sebelumnya.
Wallahua’lam.
 Sumber : http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=19266
Read Post | komentar

Hukum Meminta Anak Keturunan yang Baik

 Allah ta’ala berfirman :
{هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ}
 “Di sanalah Zakaria mendoa kepada Rabbnya seraya berkata: “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” [Ali ‘Imran:38]
Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa fawaaid, diantaranya :
1 ـ أن جميع الخلق مفتقرون إلى الله، حتى الأنبياء لا يستغنون عن دعاء الله؛ لقوله: { {دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ} }.
Sesungguhnya semua makhluk sangat butuh kepada Allah, bahkan para nabi sekalipun. Mereka tidak merasa cukup dari berdo’a kepada Allah, berdasarkan firman-Nya :
“Zakaria mendoa kepada Rabbnya . . .”
2 ـ إثبات القياس؛ لأنه لما رأى أن الله يرزق هذه المرأة بدون سبب معلوم علم أن الذي يسوق لها الرزق وهي امرأة منقطعة عن التكسب في محرابها قادر أن يرزقه، فيكون الانتقال من الشيء إلى نظيره، وهذا هو نفس القياس؛ إذن هو استدل أو أخذ من هذه القصة عبرة وهو أن يسأل الله أمراً وإن كان مستبعداً.
Menetapkan adanya qiyas, karena ketika nabi Zakaria melihat bahwa Allah memberikan rizki kepada Maryam tanpa sebab yang diketahui,  oleh karena itu dia tahu bahwa yang memberi rizki terhadap wanita yang terputus dari usaha karena berada di dalam mihrabnya mampu untuk memberikan rizki kepadanya. Dia membawa sesuatu kepada sesuatu lain yang semisal, dan ini namanya qiyas. Jadi dia berdalil atau mengambil pelajaran dari kisah ini yaitu dia meminta kepada Allah sesuatu meskipun sesuatu tersebut dirasa sulit.
3 ـ أن الصيغة التي يتوسل بها غالباً في الدعاء هي اسم الرب لقوله (ربه)، ولم يقل: (الله)، ولهذا تجدون أكثر الأدعية مصدرة بالرب؛ لأن إجابة الداعي من مقتضى الربوبية لأنها فِعل، وكل الأفعال من مقتضى الربوبية، فلهذا يتوسل الداعي دائماً باسم الرب، قال النبي عليه الصلاة والسلام: «يمد يديه إلى السماء يا رب، يا رب، يا رب»
Sesungguhnya nama Allah yang biasa digunakan sebagai perantara dalam do’a adalah Rabb. Berdasarkan firman-Nya “Rabbnya” Dia (nabi Zakaria) tidak mengatakan Allah. Oleh karena itu kalian mendapatkan bahwa kebanyakan do’a diawali dengan menyebut Rabb. Karena terkabulnya do’a orang yang meminta termasuk konsekuensi dari Rububiyah Allah ta’ala, yaitu perbuatan-Nya. Semua perbuatan Allah adalah konsekuensi dari Rububiyah-Nya. Oleh karena itu seorang yang berdo’a selalu bertawassul dengan nama Allah Rabb. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Dia menganngkat kedua tangannya ke langit sambil berdo’a : Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb”
4 ـ أن زكريا عليه الصلاة والسلام بلغ سنًّا بعيداً دون أن يأتيه الولد، يؤخذ من قوله: {{وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ} } [آل عمران: 40] .
Sesungguhnya Zakaria ‘alaihissalam telah mencapai usia lanjut dan belum mempunyai anak, berdasarkan firman-Nya “dan sungguh aku telah mencapai usia lanjut” [Al Imran : 40]
5 ـ يستفاد من قوله: { {هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ} } أن الشيء من الكريم يكون عظيماً، حيث أضاف الهبة إلى الله عزّ وجل، وهبة الكريم تكون كبيرة، ونظير هذا قوله صلّى الله عليه وسلّم فيما علمه أبا بكر، الدعاء الذي يدعو به في صلاته، قال: «فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني».
Diambil faedah dari firman-Nya “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau”  bahwa sesuatu yang berasal dari Yang Maha Mulia itu sangat agung. Hal ini karena nabi Zakaria menyandarkan pemberian kepada Allah ta’ala. Maka pemberian Yang Maha Mulia itu sangat besar. Yang mirip dengan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ketika mengajari Abu Bakr sebuah do’a yang hendaknya dipanjatkan dalam shalatnya, Beliau berkata : “Ya Rabb ampunilah aku dengan ampunan dari sisimu dan rahmatilah aku”
 6 ـ أنه لا ينبغي للإنسان أن يسأل مطلق الذرية؛ لأن الذرية قد يكونون نكداً وفتنة، وإنما يسأل الذرية الطيبة.
Tidak selayaknya bagi seseorang meminta kepada Allah anak keturunan secara muthlaq. Karena terkadang anak keturunan justru bisa mendatangkan keburukan dan fitnah. Hanya saja hendaknya meminta anak keturunan yang baik.
7 ـ أنه ينبغي للإنسان أن يفعل الأسباب التي تكون بها ذريته طيبة، ومنها الدعاء؛ دعاء الله، وهو من أكبر الأسباب، وقد ذكر الله سبحانه وتعالى عن الرجل يبلغ أشده أنه يقول: {وأصلح لي في ذريتي إني تبت إليك وإني من المسلمين } ، ولا شك أن صلاح الذرية أمر مطلوب؛ لأن الذرية الصالحة تنفعك في الحياة وفي الممات؛ لقول النبي صلّى الله عليه وسلّم: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاثة: إلا من صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له».
Selayaknya bagi seseorang untuk mengambil sebab jika dia menghendaki anak keturunan yang baik. Dan diantara sebabnya adalah dengan berdo’a, meminta kepada Allah. Ini termasuk dari sebab terbesar untuk memperoleh anak keturunan yang baik. Dan Allah telah menyebutkan seorang laki-laki yang telah mencapai usia senja berdo’a :
“Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [Al Ahqaf : 15]
Maka tidak diragukan lagi bahwa baiknya anak keturunan merupakan perkara yang diharapkan. Karena anak keturunan yang baik akan member manfaat kepadamu baik ketika masih hidup atau setelah engkau meninggal dunia. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Jika anak keturunan Adam telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang berdo’a untuknya.”
8 ـ التوسل إلى الله تعالى بأسمائه المناسبة للحاجة؛ لقوله: { {إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ} }، أي مجيبه، وهكذا ينبغي أن تكون الأسماء التي يتوسل بها الإنسان في دعائه مناسبة للمدعو به، فالداعي بالمغفرة يتوسل باسم الغفور وبالرحمة، والداعي بالرزق يتوسل باسم الرزاق وهكذا، ويدل لهذا أيضاً قوله تعالى: {{وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}} [الأعراف: 180] ، وقوله: {{فَادْعُوهُ بِهَا}}، يتناول دعاء المسألة ودعاء العبادة؛ دعاء المسألة أن تجعلها وسيلة لدعائك، ودعاء العبادة أن تتعبد لله تعالى بمقتضاها، فإذا علمت أنه سبحانه (غفور) فتعرَّض لمغفرته، وإذا علمت أنه (رحيم) كذلك وهكذا.
Bertawassul kepada Allah ta’ala dengan nama-nama-Nya yang sesuai dengan kebutuhan yang akan kita minta. Berdasarkan firman-Nya “Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a” yaitu mengabulkan do’a.
Demikianlah seharusnya yaitu nama-nama Allah yang digunakan untuk tawassul seseorang dalam do’anya hendaknya sesuai dengan isi dari do’a yang dipanjatkan. Orang yang berdo’a meminta ampunan hendaknya bertawassul dengan nama Allah Al Ghafur dan Ar Rahim, orang yang berdo’a meminta rizki hendaknya bertawassul dengan nama Allah Ar Razzaq, dan seterusnya. Yang menunjukkan hal ini pula adalah firman Allah ta’ala “Dan hanya milik Allah nama-nama yang baik maka berdo’alah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama tersebut” [Al A’raf : 180]
Firman Allah “dan berdo’alah kepadanya dengan menggunakan nama-nama-Nya” mencakup do’a masalah dan do’a ibadah. Do’a masalah yaitu engkau menjadikan nama-nama Allah tersebut sebagai wasilah untuk do’amu dan do’a ibadah yaitu engkau beribadah kepada Allah dengan konsekuensi dari nama-nama Allah tersebut. Jika engkau tahu bahwa Allah adalah Al Ghafur maka engkau meminta ampun kepada-Nya, demikian pula jika engkau tahu bahwa Allah adalah Ar Rahim dan seterusnya.
9 ـ إثبات سمع الله وكرم الله وقدرته.
وجه ذلك: أنه يسمع الدعاء، ويجيب من دعاه، وقادر على الإجابة.
Penetapan pendengaran, kemulian dan kemampuan bagi Allah ta’ala. Sisi pendalilannya : bahwa Allah mendengar do’a dan mengabulkan do’a dan dia mampu untuk mengabulkan do’a.
Sumber : http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18335.shtml
Read Post | komentar

Hukum Mengirimkan Bacaan Al Fatihah Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya :
هل يجوز قراءة الفاتحة على الموتى وهل تصل إليهم؟.
Apakah boleh membacakan al fatihah untuk mayit dan apakah pahalanya sampai kepadanya ?
Syaikh rahimahullah menjawab :
 جواب السؤال قراءة الفاتحة على الموتى لا أعلم فيها نصاً من السنة وعلى هذا فلا تُقرأ لأن الأصل في العبادات الحظر والمنع حتى يقوم دليل على ثبوتها وأنها من شرع الله ــ عز وجل ــ
Tentang dasar disyariatkannya membacakan al fatihah untuk mayit maka saya tidak mengetahui dalil dari sunnah. Oleh karena itu janganlah membacakan al fatihah untuk mayit, karena hukum asal dari ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang menetapkannya bahwa ibadah tersebut disyariatkan oleh Allah azza wa jalla.
ودليل ذلك أن الله أنكر على من شرعوا في دين الله ما لم يأذن به الله، فقال ــ تعالى ــ: (أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله). الشورى:21)). وثبت عن النبي، صلى الله عليه وسلم، أنه قال: ((من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد)).وإذا كان مردوداً كان باطلاً وعبثاً يُنَزه الله عز وجل أن يُتقرب به إليه.
Dalil yang menyatakan bahwa hukum asal ibadah itu terlarang adalah bahwa Allah mengingkari orang yang membuat syariat dalam agama Allah dengan syariat yang tidak Allah izinkan. Allah ta’ala berfirman :
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” [Asy syuara : 21]
Demikian pula terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka amalannya tertolak.”
Jika amalan tersebut tertolak maka amalan tersebut batal dan sia-sia. Allah disucikan dari amalan taqarrub yang demikian.
 وأما استئجار قارئ يقرأ القرآن ليكون ثوابه للميت فإنه حرام ولا يصح أخذ الأجرة على قراءة القرآن ومن أخذ أجرة على قراءة القرآن فهو آثم ولا ثواب له
Adapun tentang menyewa seseorang untuk membaca Al Qur’an supaya pahala bacaan tersebut sampai kepada mayit, hukumnya adalah haram. Tidak sah mengambil balasan/upah dari bacaan Al Qur’an tersebut dan barangsiapa yang mengambil upah karena bacaan Al Qur’an maka dia telah berdosa dan tidak ada pahala baginya.
لأن قراءة القرآن عبادة ولا يجوز أن تكون العبادة وسيلة إلى شيئ من الدنيا قال الله ـ تعالى ـ ( من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون). ] هود: 15
Karena membaca Al Qur’an merupakan ibadah dan yang namanya ibadah tidak boleh dijadikan sarana untuk memperoleh bagian dari dunia. Allah ta’ala berfirman :
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”  [Hud : 15]
Sumber : http://islamancient.com/play.php?catsmktba=5116
Read Post | komentar (1)

Hukum Mengucapkan "Shadaqallahul Adzim" Setelah Membaca Al Qur’an

 Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :
 59 ـ هل من الصواب أن يقول المسلم‏:‏ ‏”‏صدق الله العظيم‏”‏ بعد قراءة القرآن وهل هي واردة‏؟‏
Apakah dibenarkan bagi seorang muslim untuk mengucapkan ‘shadaqallahul adzim’ setelah selesai membaca Al Qur’an, apakah ada riwayat hadits yang menjelaskan perbuatan tersebut ?
Syaikh hafidzahullah menjawab :
لم يرد أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولا أحدًا من صحابته أو السلف الصالح كانوا يلتزمون بهذه الكلمة بعد الانتهاء من تلاوة القرآن‏.‏ فالتزامها دائمًا واعتبارها كأنها من أحكام التلاوة ومن لوازم تلاوة القرآن يعتبر بدعة ما أنزل به من سلطان‏.‏
Tidak terdapat riwayat baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , salah seorang sahabat serta salafus shalih yang terbiasa mengucapkan kalimat ini setelah selesai membaca Al qur’an. Maka terus menerus membiasakan diri membaca kalimat ‘shadaqallahul adzim’ dan menjadikannya seolah-olah termasuk salah satu hukum dan kewajiban saat membaca Al Qur’an termasuk perkara bid’ah yang tidak ada keterangannya.
أما أن يقولها الإنسان في بعض الأحيان إذا تليت عليه آية أو تفكر في آية ووجد لها أثرًا واضحًا في نفسه وفي غيره فلا بأس أن يقول‏:‏ صدق الله لقد حصل كذا وكذا‏.‏‏.‏ قال تعالى‏:‏ ‏{‏قُلْ صَدَقَ اللّهُ فَاتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ‏}‏ ‏[‏سورة آل عمران‏:‏ آية 95‏]‏‏.‏
يقول سبحانه وتعالى‏:‏ ‏{‏وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا‏}‏ ‏[‏سورة النساء‏:‏ آية 87‏]‏‏.‏
Adapun seseorang yang mengucapkannya pada beberapa keadaan, misalnya ketika dibacakan kepadanya satu ayat atau ketika dia merenungi ayat dan mendapati bahwa ayat tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap jiwanya atau yang semisalnya. Maka tidak mengapa mengucapkan ‘ Benarlah firman Allah, sungguh telah terjadi demikian dan demikian . . .’ Allah ta’ala berfirman :
“ Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (Al Imran : 95)
Allah ta’ala juga berfirman :
“ Dan siapakah yang paling benar perkataannya daripada Allah.” (An Nisaa : 87)
والنبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقول‏:‏ ‏(‏إن أصدق الحديث كتاب الله‏)‏ فقول‏:‏ ‏”‏صدق الله‏”‏ في بعض المناسبات إذا ظهر له مبرر كما لو رأيت شيئًا وقع، وقد نبه الله عليه سبحانه وتعالى في القرآن لا بأس بذلك‏.‏
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah.”  Maka ucapan ‘shadaqallah’ untuk sebagian waktu yang sesuai dan cocok yaitu jika nampak kebenaran dari Al Qur’an sebagaimana seandainya engkau melihat sesuatu yang terjadi. Allah ta’ala telah menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa hal tersebut tidak mengapa.
أما أن نتخذ ‏”‏صدق الله‏”‏ كأنها من أحكام التلاوة فهذا شيء لم يرد به دليل، والتزامه بدعة،
Adapun engkau menjadikan ucapan ‘shadaqallah’ seolah-olah termasuk bagian dari hukum membaca Al Qur’an maka ini merupakan perkara yang tidak ada dalilnya. Bahkan terus-menerus melakukan perbuatan tersebut adalah bid’ah.
إنما الذي ورد من الأذكار في تلاوة القرآن أن نستعيد بالله في بداية التلاوة‏:‏ قال تعالى‏:‏ ‏{‏فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ‏}‏ ‏[‏سورة النحل‏:‏ آية 98‏]‏‏.‏ وكان ـ صلى الله عليه وسلم ـ يستعيذ بالله من الشيطان في بداية التلاوة
Hanya saja dzikir-dzikir yang ada ketika membaca Al Qur’an adalah :

    Mengucapkan taawudz ketika mulai membaca Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman :

“Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan saat memulai membaca Al Qur’an.
 ويقول‏:‏ بسم الله الرحمن الرحيم إذا كان في أول سورة سوى براءة أما بد نهاية التلاوة فلم يرد التزام ذكر مخصوص لا صدق الله ولا غير ذلك‏.‏

    Mengucapkan basmallah jika membaca mulai awal surat kecuali surat Bara’ah (At Taubah). Adapun ketika selesai membaca Al Qur’an, tidak terdapat dalil yang menunjukkan harus mengucapkan bacaan khusus, apakah itu bacaan ‘shadaqallah ‘atau bacaan yang lain.

Sumber : المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان
Read Post | komentar
 
© Copyright Tafsir Ibnu Katsir 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all