Facebook Pages

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Bolehkah Seorang Muslim Bershalawat Badar?

Senin, 29 Juni 2015

Jurnalmuslim.com - Shalawat bentuk jamak dari kata shalla atau shalat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari Allah  berarti memberi rahmat kepada makhluk. Dan jika shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah  memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad  dan keluarganya.

Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah , serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad , bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).

Dalam ilmu tafsir, yang disebut dengan ‘bershalawat’ itu maknya banyak, tidak terbatas kepada doa semata. Karena itu didalam al-Qur’an al-karim (al-ahzab:56) kita menemukan adanya ayat yang menceritakan bahwa Allah  dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi . Dan untuk itu umatnya pun diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau juga.

Saling mendoakan satu sama lain adalah hal yang biasa dan telah menjadi syiar agama. Termasuk memberi salam kepada Rasulullah  dan bershalawat kepadanya. Kalau kita mendoakan keselamatan dan kepada seseorang bukan berarti kita meyakini bahwa dirinya ada dalam ketidak-selamatan. Doa keselamatan itu sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan semoga anda sekeluarga dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Apakah bila kita menyapa demikian berarti teman kita itu sekeluarga sedang dirawat di rumah sakit?


Perintah shalawat kepada Rasulullah  merupakan suatu perkara yang telah jelas dan tegas disebutkan dalam firman Allah  maupun sunnah Rasulullah . Agama islam merupakan agama yang paripurna tidak ada suatu masalahpun melainkan islam telah mengaturnya. Baik itu perkara yang berhubungan dengan manusia maupun perkara-perkara yang berhubungan dengan Allah. Dalam masalah ibadah kepada Allah sungguh umat manusia tidak berbuat semaunya menentukan tata cara beribadah. Karena semua bentuk ibadah harus dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya Muhammad .

 Salah satu dari jenis ibadah tersebut adalah shalawat kepada Rasulullah . Maka dalam bershalawat kepada Rasulullah  harus sesuai dengan apa yang diajarkan dan lafadznya pun harus menurut apa yang telah diajarkan Rasulullah. Jika tidak demikian maka shalawat tersebut termasuk hal yang bid’ah karena telah mengarang-ngarang lafadz shalawat.

 Diantara sekian banyak shalawat yang lafadznya dibuat-buat adalah shalawat badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember, yang beliau tulis sekitar tahun 1960an. Jelas sekali shalawat ini merupakan shalawat bid’ah, karena lafadz shlawat tersebut tidak berdasarkan kepada petunjuk Rasulullah .

Di dalam shalawat badar yang terdiri dari 28 bait itu, banyak orang menganggap bahkan meyakini bahwa shalawat badar itu mengandung fadhilah dan faedah yang besar sekali bagi siapa yang membiasakan membacanya.

Antara lain mereka menyakini shalawat tersebut untuk memohon keselamatan, bisa menghilangkan semua kesusahan, kesempitan dan segala yang menyakitkan; selamat dari bahaya musuh; untuk menangkis orang-orang yang berbuat kema’shiatan dan kerusakan, untuk memperoleh ampunan Allah, dihindarkan dari marabahaya dan bencana, mohon keuntungan dan meluaskan rezeki serta mendapatkan keberkahan dan sebagainya , dengan sebab berkah sahabat ahli badar. Selain itu juga mendapatkan pahala yang besar membaca shalawat ini.[1]

Dan seandainya mereka menggunakan shalawat ini untuk bertawasul kepada Nabi  supaya Allah mengabulkan keinginannya, maka ini adalah jenis tawasul yang tidak diperbolehkan karena bertawasul dengan orang yang sudah mati itu dilarang. Dan seandainya mereka mengucapkan shalawat ini karena bertawasul dengan kedudukan Nabi atau dengan dzat (pribadi) nya Nabi , maka hal ini adalah  adalah keyakinan yang salah bahkan termasuk syirik.[2]

 Perlu diketahui bahwa shalawat badar ini bukanlah dari Rasulullah . Shalawat ini adalah buatan manusia yang sama sekali tidak ditunjang dengan dalil yang shahih. Atas dasar ini, maka shalawat ini adalah shalawat bid’ah yang sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Otomatis, segala keutamaan yang dinisbatkan kepada shalawat ini adalah tidak benar.

Maka dari itu sepantasnyalah bagi kaum muslimin untuk menjauhi dan menghindari shalawat tersebut, dan mengingatkan saudara yang lainnya akan bahaya darinya. Jika kaum muslimin ingin melantunkan shalawat kepada Rasulullah, maka hendaklah mengikuti petunjuk dari Rasulullah , diantaranya dia bisa membaca shalawat ibrahimiyah dan yang semisal dengannya yang bersumber dari hadits-hadits Rasulullah . Wallahu A’lam Bishshowab

[1] Dr. Muhammad Utsman al-Khusyt, Kumpulan Keistimewaan Shalawat Nabi Ditinjau Dari Beberapa Segi, Bandung, Husaini Bandung, Maret 1990 M, hal : 87.

[2] Lihat Abu Anas Ali bin Husain Abu Lauz, Kupas Tuntas Tentang Tawasul, Jati Negara Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, Cet II, 2011 M. hal : 68.
Read Post | komentar

Bid'ah-Bid'ah dalam Shalawat Badar

Jurnalmuslim.com - Sejak kurang lebih 1400 tahun yang lalu Rasulullah  telah berpesan kepada kita selaku umatnya; dengan bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ



“Hendaklah kalian berpegang dengan sunahku, sunah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setaip bid'ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud No : 4607, 4609)[1]



Karena shalawat merupakan ibadah, maka segala sesuatunya harus berdasarkan contoh dari Rasulullah .

Rasulullah  bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد



“Barang siapa yang berbuat hal yang baru dalam perkara kami ini (islam) maka ia tertolak.” (HR. Bukhari No: 255, Abu Dawud No : 4608)



من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد



“Barang siapa yang beramal yang tidak ada dalam perkara kami (islam), maka ia tertolak.” (HR. Bukhari No: 2530, Muslim No : 18, Ahmad No : 262141, 26945)



Perlu diketahui bahwa shalawat badar ini bukanlah dari Rasulullah . Shalawat ini adalah buatan manusia yang sama sekali tidak ditunjang dengan dalil yang shahih. Atas dasar ini, maka shalawat ini adalah shalawat bid’ah yang sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Otomatis, segala keutamaan yang dinisbatkan kepada shalawat ini adalah tidak benar. Wallahu A’lam.

[1] Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini. Imam at-Tirmidzi no 2676 juga meriwayatkan dengan lafadz yang berbeda dan dishahihkan oleh Abu Isa.

(nisyi/jurnalmuslim.com)
Read Post | komentar

Kesyirikan Dalam Shalawat Badar

Jurnalmuslim.com - Shalawat dan salam kepada Nabi adalah hal yang dianjurkan oleh Allah bagi kaum muslimin, sebagaimana firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً



“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”  (al-Ahzab : 56)



Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menjelaskan maksud ayat diatas berkata bahwa Allah  mengabarkan kepada para hambanya tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Dimana Allah  memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah ) memerintahkan penduduk jagad raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya, sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagad raya yang di atas dan di bawah.[1]



Selain itu, Rasulullah  melalui lisannya yang mulia juga telah menjelaskan :

من صلى علي صلاة واحدا صلي الله عليه وسلم عشر صلوات وطت عنه عشر خطيئات ورفعت له عشر درجات



“Barang siapa yang bershalawat kepaku dengan satu shalawat, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali dengan shalawat yang diucapkannya itu, menghapus darinya sepuluh kejelekan, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan.” (HR. an-Nasa-I, no : 1297, dalam as-Sughro dari Anas bin Malik ; shahih)



عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : لا تجعلوا بيوتكم ولا تجعلوا قبري عيدا و صلوا عليّ فإنّ صلاتكم تبلغني حيث كنتم



Dari Abu Hurairah  bahwa Rosulullah  bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, bersholawatlah kepadaku karena sesungguhnya ucapan sholawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada.” [HR.Abu Daud no.2044 dengan sanad hasan]



Shalawat kepada Nabi memang dianjurkan dalam islam, tetapi itu harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Jangan menggunakan shalawat-shalawat yang diada-adakan yang tidak ada tuntunannya dari Nabi, apalagi ada hal-hal yang berbau syirik atau bid’ah, maka hal itu dilarang.



Di dalam shalawat badar yang terdiri dari 28 bait itu, banyak orang menganggap bahkan meyakini bahwa shalawat badar itu mengandung fadhilah dan faedah yang besar sekali bagi siapa yang membiasakan membacanya.



Antara lain mereka menyakini shalawat tersebut untuk memohon keselamatan, bisa menghilangkan semua kesusahan, kesempitan dan segala yang menyakitkan; selamat dari bahaya musuh; untuk menangkis orang-orang yang berbuat kema’shiatan dan kerusakan, untuk memperoleh ampunan Allah, dihindarkan dari marabahaya dan bencana, mohon keuntungan dan meluaskan rezeki serta mendapatkan keberkahan dan sebagainya , dengan sebab berkah sahabat ahli badar. Selain itu juga mendapatkan pahala yang besar membaca shalawat ini.[2]



Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang salah, karena mengannggap suatu amalan bisa menjadikan hal-hal di atas terkabulkan, apalagi amalan yang tidak ada contohnya dari nabi dan sahabatnya (amalan bid’ah).



Dan seandainya mereka menggunakan shalawat ini untuk bertawasul kepada Nabi  supaya Allah mengabulkan keinginannya, maka ini adalah jenis tawasul yang tidak diperbolehkan karena bertawasul dengan orang yang sudah mati itu dilarang. Dan seandainya mereka mengucapkan shalawat ini karena bertawasul dengan kedudukan Nabi atau dengan dzat (pribadi) nya Nabi , maka hal ini adalah  adalah keyakinan yang salah bahkan termasuk syirik.[3]



Karena tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan bahaya di alam jagad raya ini kecuali hanya allah semata. Allah berfirman :

قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً



“Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (al-Isra’ : 56-57)



Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo’a dan meminta kepada isa al-masih, malaikat, dan hamba-hamba Allah yang shalih dari jenis makhluk jin.

[1] Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan), Pentahqiq DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Pustaka Imam Syafi’i, Cet III 1427 H/ 2006 M,  Juz III, hal : 508.

[2] Dr. Muhammad Utsman al-Khusyt, Kumpulan Keistimewaan Shalawat Nabi Ditinjau Dari Beberapa Segi, Bandung, Husaini Bandung, Maret 1990 M, hal : 87.

[3] Lihat Abu Anas Ali bin Husain Abu Lauz, Kupas Tuntas Tentang Tawasul, Jati Negara Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, Cet II, 2011 M. hal : 68.

(nisyi/jurnalmuslim.com)
Read Post | komentar

Kesalahan-kesalahan dalam shalawat badar

Apakah Taha dan Yasin nama Rasulullah 

Jurnalmuslim.com - Telah sangat popular di kalangan banyak dari kaum muslimin bahwa Thoha dan Yasin adalah diantara nama Nabi kita Muhammad . Sebabnya karena mereka menyangka dua nama itu datang dalam Al Quran, dalam firman Allah,

طه  مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

 “Thaaha. Tidaklah kami menurunkan kepadamu Al Quran agar kamu sengsara.”

 Juga firman Allah,

يس  وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ  إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

 “Yaasiin. Dan demi Al Quran al Hakim. Sesungguhnya engkau termasuk rasul-rasul yang diutus.”

 Mereka meyakini dengan susunan ayat ini bahwa keduanya adalah diantara nama Nabi kita Muhammad. Kemudian hal itu datang dalam syair sebagian para penyair dan sebagian orang bernama dengan kedua nama itu.Yang benar, yang dirajihkan orang jamaah dari ulama muhaqqiq ahli tafsir bahwa Thoha dan Yasin adalah termasuk huruf muqaththa’ah (yang terputus) yang ada di awal-awal surat seperti الم، كهيعص، طسم، حم، ق  dan berlaku padanya makna yang diperselisihkan para ulama dalam masalah huruf muqaththa’ah. Dalil yang paling jelas atas hal ini bahwa kedua kata ini ditulis dalam mushaf dengan طه، يس  akan tetapi dalam pelafalannya seperti huruf-huruf muqaththa’ah yang lain, طاها، ياسين

 Sebagian ahli tafsir menyebutkan beberapa pendapat-pendapat yang lain bahwa keduanya termasuk nama Nabi. Akan tetapi itu adalah pendapat yang sangat lemah. Tidak ada hadits yang valid dari Nabi dan para sahabat bahwa itu adalah diantara nama Nabi .

 Adapun  nama-nama Nabi telah valid, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi , yaitu :

·  Muhmmad, Ahmad, Al Muqaffa (sama dengan nama Al Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah dan Nabiyyur-Rahmah, sebagaimana dalam hadits:

 و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ

 “Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali; Telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari 'Amru bin Murrah dari Abu 'Ubaidah dari Abu Musa Al Asy'ari dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan beberapa nama kepada kami yang merupakan nama beliau pribadi, sabdanya: "Aku bernama Muhammad, Ahmad, Al Muqaffa (sama dengan nama Al Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah dan Nabiyyur-Rahmah." (HR.  Muslim, dalam Kitab : Keutamaan, Bab : Nama-nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, No. Hadist : 4344)



·  Al-Mahi (yang maksudnya menghapus kekufuran), Al-Khatim (yang maksudnya nabi penutup atau yang terakhir), dan Al-'Aqib (yang maksudnya yang setelahnya tidak ada nabi lagi).

قَالَ حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي وَحْشِيَّةَ وَقَالَ أَحَدُهُمَا جَعْفَرُ بْنُ إِيَاسٍ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْحَاشِرُ وَالْمَاحِي وَالْخَاتِمُ وَالْعَاقِبُ

 (Ahmad bin Hanbal radliyallahu'anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami Hasan dan 'Affan dari Hammad bin Salamah dari Ja'far bin Abu Wahsyiyyah dan salah satunya berkata; Ja'far bin Iyash dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im dari Bapaknya berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Saya adalah Muhammad, Ahmad, Al hasyir yang maksudnya orang-orang berkumpul di belakangku yaitu mereka yang menguikuti agamaku, Al mahi yang maksudnya menghapus kekufuran, Al khatim yang maksudnya nabi penutup atau yang terakhir, dan Al 'aqib yang maksudnya yang setelahnya tidak ada nabi lagi."  (HR. Ahmad, dalam Kitab : Musnad penduduk Madinah, Bab : Hadits Jubair bin Muth'im Radliyallahu ta'ala 'anhu, No. Hadist : 16148)

·      Nabiyyul Malhamah

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْمَسْعُودِيِّ وَيَزِيدُ قَالَ أَنْبَأَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ سَمَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسَهُ أَسْمَاءً مِنْهَا مَا حَفِظْنَا فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ قَالَ يَزِيدُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الْمَلْحَمَةِ



"Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Al Mas'udi dan Yazid ia berkata, telah memberitakan kepada kami Al Mas'udi dari Amru bin Murrah dari Abu Ubaidah dari Abu Musa Al Asy'ari ia berkata; Rasulullah  memberitahu kami nama-nama beliau dengan beberapa nama, diantaranya yang kami hafal, beliau bersabda: "Aku adalah Muhammad, Ahmad, Al Muqaffi, Al Haasyir, dan Nabiyyurrahmah." Yazid berkata; "Nabiyyut Taubah dan Nabiyyul Malhamah." (HR. Ahmad, dalam Kitab : Musnad penduduk Kufa, Bab : Hadits Abu Musa Al Asy'ari , No. Hadist : 18704)



·     Nabiyul Malahim (Nabi Peperangan)

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي فِي طَرِيقِ الْمَدِينَةِ قَالَ إِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَالْحَاشِرُ وَالْمُقَفَّى وَنَبِيُّ الْمَلَاحِمِ



"Telah menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amir telah bercerita kepada kami Abu Bakr dari 'Ashim dari Abu Wa`il berkata; Berkata Hudzaifah bin Al Yaman: Saat aku berjalan dijalan Madinah, ternyata Rasulullah  tengah berjalan, aku mendengar beliau bersabda: "Aku Muhammad, aku Ahmad, nabi rahmat, nabi taubat, Nabi yang mengumpulkan seluruh manusia, penghujung nabi dan nabi peperangan."  (HR. Ahmad, dalam Kitab : Sisa musnad sahabat Anshar, Bab : Hadits Hudzaifah bin Yaman dari Nabi , No. Hadist : 22348)



Itulah nama-nama Nabi yang shahih sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah  sendiri dalam hadits-haditsnya yang shahih.



Akan tetapi Sebagian orang sampai berlebih-lebihan dalam hal ini. Hingga semua sifat yang dengannya Nabi disifati dijadikan nama. Mereka menyebutkannya dari riwayat-riwayat yang munkar dan batil yang banyak. Sebagian mereka menyebutkan ada lima ratus nama.



Intinya, tidak benar penamaan Nabi kita Muhammad dengan Thoha dan Yasin. Diantara yang menyebutkan hal ini adalah Ibnul Qayyim dalam “Tuhfatul Wadud” hal. 127, ia berkata, “Adapun yang dikatakan oleh orang-orang awam bahwa Yasin dan Thoha termasuk nama Nabi, maka ini tidak benar. Tidak ada hadis yang shahih, hasan dan juga mursal tentangnnya. Tidak juga terdapat dalam atsar sahabat. Dua kalimat ini hanyalah termasuk huruf muqaththa’ah seperti alif lam mim, alif lam ra dan yang lainnya.”



Ibnul Qoyim juga menyatakan yang seperti itu dalam “As Shawaa’iq Al Mursalah” (2/694), “At’Tibyan fii Aqsaam Al Quran” hal. 271[1]. Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu ‘Aasyur, As Si’dy, Asy Syanqithy dalam tafsir mereka dan para ulama yang lainnya.



Benarkah Habibullah Gelar Rasulullah?

Nabi , tidak diragukan lagi adalah habibullah, beliau mencintai Allah dan dicintai  Allah, tetapi ada sebutan lain yang lebih tinggi dari itu yaitu khalilullah. Rasulullah  adalah khalilullah, seperti yang beliau sabdakan,


حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ الضَّحَّاكِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا.........


“Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Adl Dlahhak berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Shafwan bin 'Amru dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari Katsir bin Murrah Al Hadlrami dari Abdullah bin 'Amru ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan diriku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim kekasih………….."[2]


Telah tetap bagi Rasulullah , bahwa baginya derajat kecintaan yang paling tinggi, yaitu khullah, sebagaimana hadits di atas. Beliau  adalah kecintaan Rabbul ‘Alamin, bahkan beliau adalah al-khullah yang derajatnya lebih tinggi dari pada habiib.



Jika ada yang mengatakan al-khullah itu untuk nabi Ibrahim, sedangkan habib untuk nabi Muhammad, maka perkataan yang mengkhususkan seperti ini adalah batil, karena al-khullah itu khusus untuk mereka berdua sedangkan al-mahabbah untuk umum.[3]


Ayat yang menarangkan kekhususan al-khullah adalah :


وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

 “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”  (an-Nisa’ : 125)


وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً


“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (al-Isra’ : 73)

 Kemudian ayat yang menunjukan keumuman al-mahabah adalah :

 فَإِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imran : 76)

وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali-Imran : 134)


إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali-Imran : 159)

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah:222).



Maka dari itu, siapa yang menyifatinya dengan habib saja, maka dia telah menurunkan beliau dari martabatnya, karena sifat khalil lebih mulia dan lebih tinggi dari habib. Setiap mukmin adalah kekasih Allah (habibullah), tetapi Rasulullah  berada pada martabat yang lebih tinggi dari itu, yaitu khalil, karena Allah telah menjadikannya sebagai khalil (kekasih) seperti Ibrahim. Maka dari itu kami katakan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, karena kata khalil mengandung di dalamnya kata habib, dan khalil puncak dari mahabbah.[4]



[1] Muhamamd bin Abi Bakar Ayub az-Zar'i Abu Abdillah, at-Tibyan Fii Aqsamil Qur'an (Ibnu Qoyim al-Jauziyah), Darul Fikr, Juz 1 hal 267. (Software Maktabah Syamilah)

[2] HR. Ibnu Majah, dalam Kitab : Mukadimah, Bab : Keutamaan Al Abbas bin Abdul Muthallib , No. Hadist : 138. Dalam kitab Zawaid disebutkan isnad hadits ini dhoif , karena ada 'Abdul Wahab. Imam Abu Dawud berkata : Haditsnya dho'if, Syaikh al-Albani berkata hadits ini maudhu'.

Tetapi dalam riwayat Ibnu Hiban dalam shahihnya, bab : Min Shifati SAW , juz : 14, hal : 334. no : 6425. disebutkan hadits yang menjelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah menjadikan diriku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim kekasih” adalah shahih.



[3] ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Iz ad-Dimsyaqi, Syarh al-Aqidah ath-Thahaqiyah, Beirut Lebanon, Muasasah ar-Risalah, Cet 13, Thn 1421 H./ 2000 M. Juz : I, hal : 164-165.

[4] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Darul Falah, 2007.








(nisyi/jurnalmuslim.com)
Read Post | komentar

Tawasul Dalam Shalawat Badar

Jurnalmuslim.com - Shalawat Badar yang sangat masyhur dikalangan kaum muslimin di Indonesia bahkan hingga negeri-negeri tetangga berisi tentang tawassul dengan nama Allah swt, Nabi dan para mujahidin ahli badar.



Didalam Shalawat Badar paling tidak mencakup tiga macam tawassul :



1.      Tawassul dengan Nama dan Sifat Allah.

Para ulama bersepakat boleh bertawassul dengan Nama dan Sifat Allah swt sebagaimana sebuah doa saat meruqyah orang sakit,”Ya Robb kami yang ada di langit, sungguh suci nama-Mu, urusan-Mu di langit dan bumi. Sebagaimana rahmat-Mu di langit jadikanlah rahmat di bumi. Ampunilah kami atas penyakit dan kesalahan kami. Engkau Robb orang-orang yang baik. Turunkanlah satu rahmat dari rahmat-rahmat-Mu. Kesembuhan dari kesembuhan-Mu dari penyakit ini, maka orang itu pun sembuh.” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lainnya).



Didalam hadits ini terdapat tawassul kepada Allah  dengan memuji-Nya melalui Rububiyah dan Ilahiyah-Nya serta pensucian nama dan keagungan-Nya diatas makhluk-Nya juga perkara-Nya baik yang syar’i maupun qodari.[1]



2.      Tawassul dengan Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Bertawasul dengan perantara nabi terbagi dalam empat bagian :

a.       Bertawasul dengan beriman kepadanya dan pengikut-pengikutnya. Tawasul ini dibolehkan baik semasa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun setelah wafatnya.

b.      Bertawasul dengan do’anya; yaitu meminta kepada beliau agar mendo’akan untuknya. Tawasul bentuk ini dibolehkan hanya semasa hidup beliau, dan tidak boleh setelah wafatnya karena beliau tidak bisa lagi mendo’akan siapapun.

c.       Bertawasul dengan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah. Tawasul ini tidak dibolehkan, baik semasa hidup beliau maupun setelah wafatnya, karena hal itu bukan fungsinya.

d.      Bertawasul dengan dzat (pribadi) Rasulullah . Tawasul ini tidak diperbolehkan karena termasuk dalam katagori perbuatan bid’ah dari satu sisi, dan pada sisi lain juga perbuatan syirik.[2]

e.       Tawasul dengan rasa cinta kepada Nabi Muhammad  dibolehkan karena tawasul dengan amal shaleh.



3.      Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr alias para shahabat yang mengikuti perang badar.

Kalau bertawasul dengan nabi saja tidak diperbolehkan, apalagi bertawasul dengan para mujahiddin dan ahli badr yang sudah meninggal, tentu lebih tidak diperbolehkan, apalagi dengan manusia biasa yang sudah meninggal. Karena bertawasul dengan yang sudah meninggal itu tidak diperbolehkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pembahasan khusus tetang hal itu.

[1] Muhammad Kholil Haras, Syarhu al-'Aqidah al-Wasithiyah Lisyaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  ar-Ruasah al-'Amah Li Idarotil Buhus al-'Ilmiyah Wal-Ifta' Wad-Da'wah Wal-Irsyad, Cet I 1413 H./1992 M. Juz : 1, hal : 226. (Software Maktabah Syamilah)

[2] Abu Anas Ali bin Husain Abu Lauz, Kupas Tuntas Tentang Tawasul, Jati Negara Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, Cet II, 2011 M. hal : 68.
(nisyi/jurnalmuslim.com)
Read Post | komentar
 
© Copyright Tafsir Ibnu Katsir 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all